Diberdayakan oleh Blogger.

Kerhubungan Kepercayaan Dalam Perilaku Manusia

psikologi sosial
"menjadi dan mencari semangat untuk perubahan"

setiap kali kita menjalani aktivitas rutin setiap harinya dengan berfikir agar perilaku kita berjalan dengan benar. namun, dilain sisi lain kita harus berpegang teguh pada kepercayaan maupun kebudayaan masyarakat agar perilaku kita dapat diterima dan dinilai baik oleh masyarakat. permasalahan timbul ketika dihadapan kita muncul suatu perilaku berfikir yang bertentangan dengan kepercayaan kita (dalam lingkup masyarakat) yang dimana mampu membantu kita secara bidang yang dikehendaki namun tidak sesuai dengan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat kita.  seperti hanya perilaku mengadu ayam (judi) yang dimana pada hukum terkait dilarang.

maka pada permasalahan tersebut muncul pertanyaan "apakah kepercayaan membatasi perilaku manusia?" sangat pada kali ini saya akan membahas pembahasan Keterhubungan Kepercayaan dalam Perilaku Manusia. pada materi saya kali ini, saya akan membahas tentang:
1. kepercayaan dan perilaku manusia terhadap masyarakat
2. perilaku manusia dan kesadaran ala sosiopsokologi
3. hubungan kepercayaan dan kesadaran manusia

kepercayaan dan perilaku manusia
"hendaknya orang itu harus tahu apa yang harus dibicarakan"

bagi kebanyakan orang kepercayaan bukan hal yangsangat rumit dibahas. namun juga akan menjadi penyakit jika kepercayaan tersebut memberi dampak negatif manusia. karena saat ini kita membahas kepercayaan maka ada baiknya jika kita mengetahui dulu apa itu kepercayaan.

menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepercayaan adalah sesuatu yang dipercayai benar dan nyata. sedangkan wikipedia (en) memberi definisi kepercayaan sebagai keadaan psikologis dimana seorang individu memegang premis untuk menjadi kenyataan. dari beberapa definisi diatas kita dapat memahami bahwa pada dasarnya kepercayaan merupakan sesuatu hanya dipercaya dan dibenarkan eksistensinya oleh individu maupun kelompok walaupun hal tersebut tidak dapat di. seperti hanya rasa sakit, alien, dan sebagainya.

kejawen
sering sekali kepercayaan didekatkan dengan keimanan serta keyakinan yang dimana menurut saya saling keterhubungan. dalam materi yang saya buat akan sering mendapati keterhubungan kepercayaan, keimanan, dan keyakinan (kemungkinan kosa kata lainnya) meskipun dalam definisi terkait berbeda makna namun akan disamakan pemahamannya.

bersamaan dengan perilaku manusia, seseorang yang mempunyai kepercayaan akan condong berperilaku sesuai kepercayaannya. dimana kepercayaan pada lingkungan masyarakat akan memberikan nilai lebih dan nilai kurang dihadapan masyarakat manusia itu pada umumnya. dilihat dari realitas yang saya lihat, seseorang yang mempunyai kepercayaan tentang agama kejawen condong melakukan kegiatan kejawen dan bahkan konsisten jika memiliki lingkungan kejawen yang kuat dan pun seperti kasus lainnya yang dimana pembaca dapat lihat secara langsung di sekitar lingkungan pembaca.

Manusia dan Kesadaran
manusia berperilaku didasari atas kesadaran manusia itu sendiri. jika manusia berperilaku tanpa atas kesadarannya maka perilaku manusia itu tidak dapat dinilai baik secara etika, logika, maupun estetika. condoh sederhana seperti anak yang dipaksa orang tuanya mengamen di tengah padatnya lalu lintas, anak itu berperilaku bukan atas kesadaran melainkan pemaksaan dari orang tuanya sehingga kesalahan timbul dari orang tua si anak.

sosio psikologi
pada beberapa pembahasan sosiopsikologis dimana perilaku didasari atas kesadaran kognisi (pemikiran), afeksi (perasaan), dan psikomotorik (perilaku) dimana diperlunya sistim interaksi sosial untuk dapat mempengaruhi perilaku manusia. contohnya seseorang yang melihat adanya nenek yang akan menyebrang jalan (kognisi) dia merasa iba atas nenek tersebut (afeksi) dan akhirnya diamembantu nenek itu menyebrang jalan (psikomotorik). pada contoh tadi mempersepsikan kesadaran manusia seutuhnya. namun timbul pertanyaan apakah jika hanya kognisi saja apakah dia sadar? pembahasannya di lain waktu.

Hubungan kepercayaan dan Kesadaran Manusia (sosio psikologi)
adanya kepercayaan mempengaruhi perilaku manusia terhadap masyarakat dan dilain sisi kesadaran juga mempengaruhi perilaku manusia itu sendiri.jika ada dua premis yang berlainan (bertolak belakang) maka dipertanyakan apakah ada kesalahan? 

pada ulasan tentang kepercayaan, kepercayaan yang dianut manusia diorientasikan untuk selalu dipercayai eksistensinya. sehingga manusia tersebut dituntut konsisten terhadap apa yang dipercayai. bagi suatu kepercayaan jika ada perilaku yang bersifat tidak dilakukan maka sewajarnya manusia tersebut tidak melakukannya meskipun sifatnya doktrin. adapun kesadaran manusia akan hanya sebagai penimbang perilaku yang dilakukan dimana perilaku itu dilakukan jika antara kognisi, afeksi, dan psikomotorik setuju sebagai pemicunya perilaku tsb terhadap interaksi sosial.

disini saya beri studi kasus bagaimana keterhubungan antara kepercayaan dan kesadaran manusia pada cerita Ali Bin Abi Thalib batal Membunuh Musuhnya

Kisah teladan mengenai Ali r.a, “Pintu Gerbang Ilmu dan Singa Allah”. Dalam perang Khandaq, Ali memukul jatuh seorang kafir musuhnya dan menghunus pedang untuk membunuhnya, takkala musuhnya meludahi muka sang Asadullah yang gagah berani. Akan tetapi Ali malah diam menahan pedangnya. Hamper tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, orang kafir tersebut bertanya.”Mengapa engkau tidak jadi membunuhku, wahai orang baik?”
Ali menjawab,”Harta benda dan hidupmu menjadi berharga bagiku. Aku tak berhak membunuhmu. Aku diperbolehkan membunuh hanya dalam perang suci, dalam perang yang diperintahkan oleh Allah. Barusan aku telah mengalahkanmu dalam peperangan, memukulmu jatuh, dan hamper saja membunuhmu. Namun ketika engkau meludahi wajahku, kemarahanku sendirilah yang bangkit untuk menghabisimu. Jika jadi membunuhmu, aku melakukannya bukan karena Allah, tetapi karena kemarahan dan kepentinganku sendiri. Maka, orang-orang akan menyebutku bukan sebagai kesatria sejati, tetapi sebagai pembunuh. Sewaktu engkau meludahi wajahku, nafsu pribadi menguasai diriku, sehingga alih-alih membabatmu lantaran kepentinganku sendiri, aku memilih membabat nafsuku demi Allah Swt. Sekarang engkau boleh bebas.”
Orang kafir itu merasa kagum dan takjub. Peristiwa ini menyadarkannya bahwa dia menyaksikan sendiri kemuliaan dan keluhuran seorang muslim. Saat cahaya Islam merasuki hatinya, tanpa sadar air matanya menetes. Bagaimana mungkin air matanya melelh?... hanya dalam beberapa saat saja, dia selamat dari kematian sebagai orang kafir-bahkan sama sekali selamat dari kekafiran-dan kemudian bersyahadat masuk Islam. Orang yang melantarinya masuk Islam tak lain adalah sosok yang berdiridi depannya, Ali bin Abi Thalib.
(Pencerah Mata Hati oleh Syekh Muzaffer Ozak)




Kesimpulan 
bahwa pada dasarnya manusia tidak mengharapkan membatasi perilakunya karena kepercayaannya. namun kepercayaan yang dianut manusia itu sendiri membuat manusia membatasi perilakunya dengan harapan perilaku manusia itu dapat dinilai baik dan diterima oleh masyarakat (yang sama menganut kepercayaan bersama). sehingga secara sadar manusia sudah membatasi dirinya demi kepercayaan yang di percayainya.




daftar isi:
gambar dari image.google.co.id
kbbi versi 4.0
http://en.wikipedia.org/wiki/Belief
http://en.wikipedia.org/wiki/Trust_(social_sciences)
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_sosial
http://ramahfhunsri.blogspot.com/2011/01/ali-bin-abi-thalib-batal-membunuh.html

0 komentar:

Poskan Komentar